Rabu, 02 Mei 2018

Hardiknas dan Politisasi Pendidikan


Saat ini merupakan momen sejumlah kontestan untuk menjual “barang dagangannya”, bukan hanya fasilitas umum yang disuarakan, namun (lagi-lagi) para pasangan calon (paslon) menjual dagangan politiknya melalui janji-janji pendidikan gratis. Bahkan terdapat janji politik yang tidak mencerminkan sebuah kebijakan yang berlaku secara nasional alias kontra-produktif dengan nilai-nilai kependidikan nasional.

Sesungguhnya, menjual nama pendidikan gratis di moment politik. Karena hal ini merupakan pola lama yang selalu berulang dilakukan oleh politisi dan para calon kepala daerah dalam merebut suara rakyat. Padahal, pada dasarnya urusan pendidikan, sejatinya sudah menjadi amanat konstitusi dan mutlak diselenggarakan oleh pemerintah atau kepada siapapun yang berkuasa di atas.

Rabu, 18 April 2018

Guru Cerdas dan Peran Aktif di Era Disrupsi


Era disrupsi dalam arti sederhana merupakan gangguan atau mengganggu (disruption). Untuk menyambut era disrupsi pakar manajemen dari Universitas Indonesia Rhenald Kasali meluncurkan buku hasil kajiannya yang berjudul "Disruption: Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan dalam Peradaban Uber".

Menurutnya, Era Disrupsi adalah fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata, ke dunia maya. Fenomena ini berimbas pada perubahan pola dunia bisnis. Kemunculan transportasi daring adalah salah satu dampaknya yang paling populer di Indonesia selama ini.

Rabu, 28 Maret 2018

Kesejahteraan Guru dan Mutu Pendidikan Indonesia


Berbicara soal mutu pendidikan seolah tak ada tolok ukur yang dapat menjawabnya. Seluruh jenjang pendidikan di Indonesia (saat ini) pasti sedang memikirkan bagaimana caranya sekolah atau madrasahnya memiliki kualitas yang tinggi. Hubungan antara mutu sekolah dengan mutu guru harusnya dirancang secara kritis dengan tidak mengabaikan indikator dari guru yang sejahtera tersebut. Ada beberapa fakta mengatakan bahwa guru yang sejahtera itu memiliki mobil, rumah, berpakaian necis, dan lainnya. Sedangkan tak sedikit guru yang sedang menutupi cicilan rumah dan kendaraanya, belum lagi menyisihkan sebagian honornya untuk keperluan rumah tangga menyekolahkan anak-anaknya. Jadi, tidak heran kalau banyak guru mencari profesi lain untuk tambahan menutupi keperluannya setiap hari.

Minggu, 04 Maret 2018

Menyoal Perangkat Digital Sebagai Sumber Belajar


gurumenulis.com
Sering kali menemukan pelajar tingkat dasar maupun menengah yang sudah mahir dalam mengoperasikan perangkat digitalnya, singkatnya ponsel cerdas atau gadget.

Berdasarkan riset di luar negeri kasus pemanfaatan media komputer sebagai media pembelajaran dapat membantu para peseta didik untuk memahami setiap materi dengan cepat dan tepat. Namun, hal itu hanya sebatas “meyakinkan” saja. Anak-anak di korea seolah malu mengakui bahwa mereka tertarik dengan hal tersebut. (Yee-Jin Shin: 2014)

Karena mereka sendiri sudah sangat terbiasa dengan penggunaan perangkat digital tersebut. Seharusnya perangkat digital ini bukan hanya alat atau media semata, namun lebih kepada alat yang dapat menyelesaikan problematika dalam memahami setiap materi pelajaran.