Senin, 01 Mei 2017

Pro Kontra Full Day School

Wacana Full Day School yang setahun lalu sudah direncanakan oleh Anis Baswedan yang pada saat itu menjabat sebagai menteri pendidikan, kembali disuarakan oleh mantan suksesor Mendikbud, Muhadjir Effendy. Tanpa menilik proses sosial yang akan dilewatkan, keputusan sekolah menjadi 5 hari tersebut akan diluncurkan pada tahun ajaran 2017/2018. Untuk itu, sekolah hanya berlangsung Senin hingga Jumat dengan tambahan jam pelajaran setiap harinya.

Sistem belajar full day school yang digagas oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy ini diperlukan guna menghindari terjadinya polemik di masyarakat. Masyarakat semakin pintar mengkritisi keputusan yang dikeluarkan oleh menteri. Menjadi problem di kalangan masyarakat apabila penerapan sistem belajar tersebut membuat ketidaknyamanan bagi anak. Sistem belajar yang harus diterapkan adalah kenyamanan bagi anak, kemaksimalan untuk guru agar fasilitas yang tersedia dapat digunakan secara efektif.


Sebagian masyarakat mengkritik bahkan menolak dengan terang-terangan peraturan tersebut. Dengan alasan sistem full day school yang akan diterapkan memberatkan siswa dan guru di daerah pedalaman. Mengapa demikian? sebagian siswa di daerah pedalaman menggunakan waktu selesai sekolah untuk membantu pekerjaan orang tua, mengaji sore, bahkan mencari tambahan untuk biaya sekolah dan hidup.  Namun, jika sistem tersebut benar akan dijalankan, maka waktu untuk mengerjakan hal yang dianggap lumrah di masyarakat akan semakin berkurang, bahkan akan hilang secara perlahan. Ini yang menjadi salah satu kritikan utama dalam menjawab fatwa menteri pendidikan, Muhadjir Effendy.

Dari beberapa literatur, hampir semuanya berpusat pada Finlandia sebagai porosnya sistem pendidikan. Sekolah di negara tersebut hanya 3-4 juam per hari. Bahkan profesor dari negara tersebut mengatakan bahwa yang perlu diperhatikan adalah kualitas pengajarannya, bukan lamanya waktu belajar (news.detik.com). Sistem pendidikan di Finlandia juga sedikit memberikan PR, sedikit waktu di dalam kelas, tidak ada UN dan lain sebagainya.

Wacana sekolah lima hari sejatinya lebih baik, mengingat banyak yang menyebut anak-anak Indonesia mengalami over schooling. Siswa kelelahan dengan aneka menu pelajaran atau les tambahan. Itu belum termasuk aneka kursus minat bakat seperti les privat kesenian, les mata pelajaran khusus, sampai dengan kegiatan agama, seperti mengaji.

Menteri pendidikan menanggapi berita yang beredar saat ini tidak dapat menjadi referensi perkembangan pendidkan terutama di sektor sekolah, bahwa setiap sekolah belum wajib melaksanakan peraturan tersebut. Hal ini merupakan tanggapan yang beredar di media online, untuk itu yang menjadi “PR” sekolah saat ini adalah memikirkan manajemen waktu, seperti pembagian jam pelajaran yang harus disesuaikan dengan waktu guru-guru mengajar.

Kebijakan Mendikbud yang disesuaikan dengan standar kerja Aparatur Sipil Negara (ASN) ini merupakan salah satu alasan utama kenapa harus diterapkannya sistem belajar full day school. Karena, waktu pembelajaran dalam sepekan menjadi 8 jam. Sehingga dalam 5 hari, para guru akan mengajar selama 40 jam, sama dengan para pegawai di kantor. Hal inilah yang memicu sebagian “masyarakat kantoran” setuju dengan wacana tersebut. Mereka bisa  menitipkan anak di sekolah sampai pulang dari kantor. Konsep pendidikan terkadang secara abu-abu harus beradaptasi dengan sistem birokrasi perusahaan. 

Kebijakan full day school atau sekolah menjadi 5 hari sekolah tentu akan menutup kesempatan anak didik memperdalam ilmu agama secara fokus dan khusus di lembaga-lembaga kegamaan. Dengan kata lain, lembaga pendidikan keagamaan yang selama ini mampu membangun karakter bangsa tersebut juga berpotensi terbengkalai. Terlebih lagi, interaksi sosial yang menjadi tempat praktik karakter anak akan semakin berkurang, bahkan lambat laun akan hilang karena waktu tersita oleh sistem belajar yang belum tentu mampu membentuk karakter anak. Lain lagi dengan anak yang hidup dan bersekolah di daerah terpencil, wacana tersebut akan mengganggu aktivitas sepulangnya dari sekolah. Mereka yang harus membantu orang tua, mencari biaya tambahan bahkan mengaji pun akan disita waktunya oleh sistem tersebut.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar