Rabu, 17 Mei 2017

Ucapan Wisuda; Balasan dari Tangan Kosong

Tulisan ini dimulai dengan pertama kali aku ketemu di pelataran kampus pascasarjana UIN SU Medan, tepatnya di awal-awal semester perkuliahan. Sebenarnya sosok yang tidak asing baik ditelinga konon lagi di mata. 6 tahun lamanya pernah menimba ilmu dan “air kuning” di Dayah Modern Bustanul Ulum Langsa, Aceh. Aku beri tanda petik pada air kuning bukan karena airnya tidak kuning, tapi beberapa senior yang lebih dulu sukses menyeletuk bahwa “berkat air kuning  inilah semua alumni sukses dalam keberkahan”. Semoga saja yang pernah menikmati air kuning ini sukses dalam keberkahan sesuai dengan celetukan para senior.

Sosok yang dulunya hanya tegur sapa saja, saat ini sudah sampai di kota melayu, Medan. Sempat sedikit marah dan kecewa karena informasi untuk studi lanjut ke Medan tidak didapatnya melalui aku yang lebih dulu menginjakkan kaki disini. Walau berbeda program studi, saling sharing ilmu juga sering kami lakukan. Ngikuti seminar, pengajian, bahkan aku kenalkan dengan cara pedekate atau pendekatan pedekate dalam hal belajar secara intern di luar kampus, baik diskusi sampai makan tidur di rumahnya, yang katanya gak pernah ia dapat di kota studi strata satunya.

Singkat cerita, beberapa bulan berlalu aku yang lebih dulu melanjutkan studi strata duaku, tentunya aku yang lebih dulu wisuda terhitung secara waktu, tepat di 4 Mei 2017 aku sah menyandang gelar Magister dan di bulan September aku menerima ijazah magister di bidang pendidikan Islam. Terlintas dipikiranku, saat yudisium di hotel Emerald Garden kedatangannya dengan tidak membawa apa-apa atau tangan kosong, berdua dengan tunangannya saat ini. (Belum sah, jadi nama disembunyikan). Namun, kali ini aku balas tangan kosongmu dengan beberapa ketikan jari yang aku tulis sejak pagi tadi.

Khairil Fazal, Sosok lelaki bontot dan berperut tidak six pack inilah yang hari ini diwisuda. Tepat pada hari Kamis tanggal 18 Mei 2017 sah menyandang gelar M.Ag di bidang Pemikiran Islam. Seorang pria yang ketagihan dengan diskusi di rumah dosen-dosen ini tidak didampingi oleh orang tuanya karena kesibukannya yang super sekali. Tapi tak apa, berkat dukungan moral dan moril nya lah kau mampu menyelesaikan studimu di UIN Sumatera Utara. Jangan lupa beri kabar gembira ini kepada seluruh keluargamu di Lhok Nibong, Aceh Timur.

Terimakasih juga karena telah menemani wawancara singkat tentang risetku kepada pembimbing tesismu Prof. Dr. Amroeni Drajat, M.Ag, walau ada salah satu atribut wisudamu basah karena kehujanan dan pukul 00.00 baru bisa kembali ke kontrakan. Doakan risetku naik cetak dan sukses dalam diseminasi riset yang beberapa waktu dekat akan diseminarkan di Sibolangit.

Sebenarnya bukan pesan apalagi nasihat, toh kita juga sama-sama belajar. Titipanku hanyalah bawa budaya memperoleh ilmu di kota Medan yang kadang tercampurkan dengan budaya mecari ilmu di Jogjakarta dan Jakarta, karena beberapa guru besar kita lulusan sana. Asalkan positif aku setuju, sebarkan ilmu kepada rakyat Aceh, khususnya masyarakat di kampungmu dan mahasiswa di kampusmu kelak. Karena “Khairunnas ‘anfauhum linnas, sebaik-baiknya manusia adalah ia yang berguna bagi orang lain”. Semoga kesuksesan dan keberkahan selalu menyertai kita semua. Amiin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar