Senin, 22 Mei 2017

Ziarah; Tradisi Masyarakat Sambut Ramadhan

Datangnya bulan suci ramadhan tinggal menghitung hari, segala niat ibadah tentunya sudah disapkan jauh-jauh hari. Persiapan yang paling utama adalah persiapan fisik dan mental. Fisik yang bugar akan memudahkan kita menjalani puasa tidak makan dan minum disiang hari selama sebulan penuh. Persiapan mental akan memberikan azzam (semangat) yang kuat dan akan membuat kita bersemangat untuk memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan. Perwiritan pun dihentikan untuk sementara, guna mengutamakan ibadah sunnah dan wajib. Para pejabat juga ada yang melakukan open house atau silaturahmi dalam menyambut bulan nan suci ini, begitu juga ziarah ke makam orang tua, keluarga, dan anak-anak. Hal ini sering dilakukan masyarakat Indonesia sebelum masuk bulan ramadhan.

Ziarah kubur sudah menjadi tradisi rutin bagi masyarakat Indonesia sebelum masuk bulan suci ramadhan. Biasa dilakukan 4-5 hari sebelum meugang/punggahan. Meugang/punggahan ini biasanya dilakukan 1 hari sebelum masuk puasa pertama. Jelang ramadhan sudah menjadi pemandangan umum jika ramai para penjual bunga di sepanjang jalan pinggiran pemakaman umum. Satu sisi hal yang demikian mempermudah ritual “tabur bunga” bagi para peziarah. Satu sisi, membuat jalan lintas sedikit terhambat bahkan macet.

Pada hakikatnya, hukum menziarahi kubur hukumnya adalah sunnah. Para sahabat juga menjalankan zirah kubur. Jadi tidak ada dasar sama sekali untuk melarang ziarah kubur. Karena nabi Muhammada saw pernah berziarah ke makan Baqi’ dan mendoaakan dengan kata-kata yang ditujukan  kepada ahli kubur di makan Baqi’.

Ziarah kubur merupakan anjuran Nabi Muhammad saw, beliau bersabda: “Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak (qaulul hujr), ketika berziarah” (HR. Al Hakim no.1393, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’, 7584).

Ziarah kubur akan mengingatkan kita pada kefanaan, kematian dan akhirat, sehingga kita tidak akan terlena dengan gemerlap dunia dan tetap ingat pada Allah swt.  Dengan ziarah kubur hati kita akan menjadi lembut dan mendoakan orang-orang yang telah mendahului kita.  Ziarah kubur boleh dilakukan kapanpun, tidak terikat oleh waktu tertentu, apalagi mengkhususkannya dengan hari-hari lain. Kebiasaan berziarah hanya pada saat menyambut Ramadhan dikhawatirkan akan mengubah keyakinan menjadikan ziarah kubur sebagai sesuatu yang harus dikerjakan saat menjelang puasa ramadhan. Padahal ziarah kubur boleh dilakukan di kapanpun tanpa ada pengkhususukan waktu.

Karena tidak adanya kebiasaan khusus dari Nabi Muhammad saw mengenai waktu  untuk berziarah, maka kita tidak boleh memberi ketetapan waktu khusus bahwa misalnya ziarah pada hari Kamis lebih baik dibanding pada hari lain, ataupun menganggap telah berdosa mereka yang tidak ziarah sebelum memasuki bulan Ramadhan. Ziarah kubur dapat memberikan manfaat positif yang tidak sedikit terhadap perkembangan dan kesehatan jiwa, menambah keimanan, menanamkan sifat kesederhanaan, dan dapat mengingatkan kita akan semakin dekatnya kematian.

Adanya tradisi ziarah kubur menjelang Ramadhan, bisa jadi terbentuk dari anjuran Nabi saw sendiri. Nabi Muhammad saw menganjurkan kepada setiap muslim saat memasuki Ramadhan dengan jiwa yang bersih, terlepas dari kebencian dan permusuhan, saling mendo'akan dan memaafkan, saling silaturahmi. Meninggalnya seseorang, tidaklah memutuskan dengan kehidupan di dunia ini, sehingga dengan meninggalnya seseorang telah berarti tamatlah riwayatnya dan tidak ada lagi sangkut pautnya dengan apapun yang masih berada di dunia ini.

Untuk itu, secara singkat ziarah kubur dapat difahami 2 manfaat yang sederhana namun berguna, pertama ziarah kubur untuk mengingat kematian. Mengingat kematian sebenarnya bukan hanya ketika kita sedang berziarah saja, disetiap kesempatan  kita dianjurkan untuk mengingat kematian, cepat atau lambat pasti kita akan mengalami kematian.  Kedua; ziarah untuk mendoakan ahli kubur, anjuran yang kedua dibolehkan untuk mendoakan ahli bukan untuk meminta doa kepada ahli kubur. Jika hal demikian dilakukan, maka akan dekat dengan kesyirikan. Jadi, saat kita berziarah, hendaknya mendoakan ahli kubur tersebut kepada Allah swt.


Sebagai tanggapan bagi sebagian orang yang melarang untuk berziarah, namun juga himbauan bagi mereka yang melampaui batas dalam berziarah, bahwa ziarah itu dibolehkan namun harus sesuai dengan aturan dan tata cara yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Oleh karena itu, ziarah di bulan suci Ramadhan ataupun di Hari Raya, sekalipun sebenarnya tidak ada perintah dan tidak ada larangan. Karena tidak adanya larangan, orang yang suka ziarah mengambil inisiatif alangkah indahnya jika dapat kirim doa pada hari-hari yang penuh rahmat dan ampunan di hari ramdhan ini.

Wallahu a'laam ...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar