Selasa, 28 November 2017

Eksistensi Dayah di Aceh

Realitas sejarah mengungkapkan bahwa lembaga dayah mempunyai empat kegunaan yang sangat signifikan bagi masyarakat Aceh, yaitu sebagai pusat belajar agama (the central of religious learning), sebagai benteng terhadap kekuatan melawan penetrasi penjajah, sebagai agen pembangunan, dan sebagai sekolah bagi masyarakat. (Hasbi: 2003)

a)      Pusat Belajar Agama (the central of religious learning)
Pada abad ke-17 M, Aceh telah menjadi pusat kegiatan intelektual. Banyak sarjana dari negara lain berbondong-bondong datang untuk balajar ke Aceh. Kepedulian ulama dayah terhadap ilmu-ilmu agama tidaklah sirna, walau kondisi ekonomi dan politik era kesultanan Aceh mengalami masa kemunduran. Sebelum kedatangan Belanda, dayah-dayah di Aceh sering dikunjungi oleh masyarakat luar Aceh. Dari sejak Hamzah Fansuri sampai datangnya Belanda, ada 13 ulama dayah yang menulis kitab; karya yang ditulis jumlahnya 114 kitab, terdiri dari berbagai subjek, seperti tasawuf, kalam, logika, filsafat, fiqh, hadist, tafsir, akhlaq, sejarah, tauhid, astronomi, obat-obatan, dan masalah lingkungan.


b)     Sebagai Benteng Melawan Penetrasi Penjajah
Ketika perang melawan kolonial Belanda meletus, dayah memainkan peranan penting dalam perlawanan rakyat Aceh melawan tekanan-tekanan penjajah Belanda. Ketika para Sultan dan kaum ulee balang (kaum ninggrat/bangsawan) tidak sanggup lagi menjalankan roda pemerintahannya, para tentara menginginkan pemimpin lain untuk melanjutkan perlawanan dalam rangka mempertahankan tanah air mereka. Maka saat itu ulama dayah dan dayahnya tampil sebagai benteng pertahanan yang cukup tangguh dan sulit ditembus oleh lawan.
Ulama dayah yang terkenal sebagai komandan perang antara lain Tgk. Abdul Wahab Tanoh Abee, Tgk. Chik Kuta Karang dan Tgk. Muhammad Saman (selanjutnya dikenal dengan Tgk. Chik di Tiro). Kontribusi mereka bagi tanah Aceh dalam menghadapi penetrasi penjajah sangat besar dan perlu dikenang oleh generasi selanjutnya, bahwa mereka adalah aneuk dayah yang menjelma menjadi panglima perang (Hasbi: 2003)

c)      Sebagai Agen Pembangunan
Dalam beberapa waktu, beberapa lulusan dayah ada yang menjadi pemimpin formal yang duduk  di kursi pemerintahan, di lain pihak ada juga yang menjadi pemimpin informal. Biasanya mereka aktif dalam pembangunan masyarakat. Tradisi ini berlangsung sampai saat ini, meskipun alumni sekolah lain seperti madrasah dan sekolah umum juga ikut berperan dalam membangun kehidupan masyarakat. Sebelum kedatangan Belanda ke Aceh, beberapa ulama yang tamat dari dayah turut aktif dalam bidang ekonomi, khusunya bidang pertanian, sebagai contoh, Tgk. Chik di Pasi memimpin masyarakat membangun irigasi, seperti yang dilakukan oleh Tgk. Chik di Bambi dan Tgk. Chik di Rebee. (Baihaqi, AK: 1983)
Seluruh lulusan dayah telah menunjukkan bahwa mereka memiliki perhatian yang besar terhadap masyarakat dalam berbagai kepentingan. Hal ini berdasarkan kenyataan bahwa selama meuranto di dayah, mereka melewati pengalaman baru yang berbeda dengan pengalaman mereka ketika berada di kampung halaman. Jadi, lulusan dayah memiliki dua latar belakang kultur yang berbeda, di satu pihak realitas sosial yang mereka temui ketika berada di daerah asal dan di pihak lain sesuatu yang baru yang mereka pelajari di dayah. Dengan demikian mereka menemukan bagaimana konsep yang ideal dam membimbing masyarakat kala mereka terjun langsung di kehidupan sosial masyarakat.

d)     Sekolah Bagi Masyarakat
Belajar di dayah sangatlah komprehensif ketimbang belajar di tempat lain; karena dayah tidak hanya menawarkan materi agama Islam tetapi juga bimbingan spiritual dan latihan fisik. Sebagai guru, teungku bukan hanya bertanggungjawab dalam hal mengajar, namun juga berfungsi sebagai penasehat, pembimbing, pelatih dan penolong. Hubungan antara murid dan guru lebih pada hubungan personal ketimbang hubungan birokrasi.
Seorang santri (aneuk dayah) ketika sudah belajar di dayah diwajibkan mengikuti aturan-aturan dan kurikulum dayah. Santri dibekali ilmu membaca kitab Arab gundul atau kitab kuning (klasik). Walaupun informasi tentang kurikulum sangatlah langka di latar belakang sejarah.
Sedangkan metode mengajar di dayah pada dasarnya dengan lisan dan metode hafalan. Guru dan muridnya biasanya duduk dalam satu lingkaran (halaqah), tetapi sejak 1960-an sebagian dari mereka menggunakan ruang kelas seperti sekolah umum, dimana murid-murid duduk diatas kursi. Metode lain adalah para murid datang satu per satu kepada seorang guru dengan copy teks yang sedang mereka pelajari kemudian guru membaca teks dan memberikan catatan pada bacaan tersebut, kemudian meminta murid membacakan kembali.(Hasbi: 2003)
Kesabaran dan ketekunan merupakan dua kunci utama jika ingin berhasil dan yang paling lama menetap di dayah dan biasanya paling banyak mengetahui tentang dayah dan pengetahuan agama. Dengan demikian untuk menghadirkan seorang ulama melalui dayah itu amatlah berat sekali. Karena di sini, tidak hanya dituntut mahir dan memiliki kemampuan intelektual yang handal, tapi juga butuh pada kesabaran dan pengorbanan yang besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar