Selasa, 28 November 2017

Memahami Dayah Sebagai Lembaga Pendidikan Islam

Menurut Tgk. Mohd Basyah Haspy, Dayah berasal dari bahasa Arab zawiyah. Istilah zawiyah secara literal bermakna sudut dan diyakini oleh masyarakat Aceh pertama kali digunakan untuk sudut masjid Madinah ketika nabi Muhammad mengajar para sahabat pada masa awal Islam. (Hasbi Amiruddin: 2013) Dalam perkembangan aktivitas pendidikan Islam pada abad pertengahan kata zawiyah dipahami sebagai pusat agama dan pusat pengajian tasawuf bagi orang-orang sufi. Karena banyaknya ulama perantau, yang ingin memperdalam ilmunya dan memingkatkan ketawadhu’an dalam beribadah. Selanjutnya, dari berbagai aktivitas dakwah dan pendidikan yang dilakukan oleh para pendakwah tradisional Arab dan para sufi, kata zawiyah dikenal dan digunakan dikalangan Islam Aceh sebagai lembaga pendidikan.

A. Hasjmy menjelaskan bahwa Dayah adalah sebuah lembaga pendidikan yang mengajarkan mata pelajaran agama yang bersumber dari bahasa Arab, misalnya fiqh, bahasa Arab, tauhid, tasawuf, dan lain-lain. (Haidar: 2001) Dengan demikian kata dayah yang berasal dari kata zawiyah disamping memiliki hubungan dengan berubahnya kata zawiyah menjadi dayah menurut kultur masyarakat Aceh, bukan letak geografis dayah itu sendiri yang lazimnya di daerah pedalaman, melainkan istilah dayah merupakan hasil adopsi Timur Tengah yang dibawa pulang oleh Ulama Aceh terdahulu, dan  mempunyai fungsional yakni sama-sama digunakan sebagai tempat menuntut ilmu-ilmu agama.
Sama halnya menurut Hasbi Amiruddin dalam Tesisnya,  the ulama dayah are a particular group among the Acehnese 'Ulama. they are graduates of a dayah and are therefore, to be distinguished from those who have studied in other institutions such as madrasah, school and da'wah foundations. those who have attended these latter institutions and who have been able to acquire a deep knowledge of Islam are known simply as ulama or sometimes as ulama modern even though this distinction is now always clear. (Hasbi: 1994)
 Ia mengatakan bahwa, Ulama Dayah merupakan suatu komunitas khusus di antara ulama Aceh. Mereka adalah alumni dari dayah. Oleh karena itu mereka dianggap lebih terhormat dibandingkan dengan orang yang menuntut ilmu di tempat/lembaga pendidikan lain, seperti lulusan madrasah atau sekolah. Orang-orang yang belajar di tempat kecuali dayah dan mampu menguasai ilmu agama secara mendalam disebut sebagai “ulama modern”, walaupun perbedaannya tidak begitu jelas.
Selain pengajaran dayah, Meunasah juga dipakai sebagai tempat mengajarkan ilmu-ilmu  agama oleh masyarakat  Aceh. Namun perbedaan antara perbedaan antara dayah dan meunasah adalah dayah merupakan tempat belajar agama bagi orang-orang yang telah dewasa. Sementara meunasah atau rumah-rumah guru (Teungku), diberikan untuk anak-anak belajar pendidikan agama.
Setelah anak-anak tamat belajar Alquran dan mampu melaksanakan ibadah wajib, maka tugas terakhir dari pendidikan Meunasah adalah mempelajari kitab agama yang ditulis dalam bahasa Arab Melayu seperti Masailal Muhtadi. Agar dapat memberi bekal bagi anak-anak yang akan melanjutkan studi lebih lanjut di berbagai dayah termasyhur. Pendidikan dayah terkenal dengan istilah meuranto. Bagi anak-anak Aceh yang mempunyai minat untuk mempelajari ilmu-ilmu agama lebih mendalam dapat dilakukan dengan cara meuranto ke berbagai dayah terkenal. Hal ini dilakukan setelah dia mampu mampu membaca Alquran dan memahami cara-cara melakukan ibadah ketika dia belajar di Meunasah atau di rumah-rumah teungku. Dengan demikian, fungsi dayah dan meunasah sangat bermanfaat dan bernilai bagi masyarakat Aceh ketika dikolaborasikan dengan ilmu-ilmu agama.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar