Selasa, 28 November 2017

Menguak Sejarah Dayah di Aceh I

Kehadiran pendidikan Islam di daerah Aceh sama tuanya dengan kehadiran agama itu di daerah tersebut, sebab antara pendidikan Islam dengan proses islamisasi, sebagaimana juga setiap penyiaran agama lainnya merupakan satu rangkaian kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tetapi kapan agama Islam mulai bertapak di daerah Aceh merupakan suatu masalah yang masih sukar dipecahkan.(Depdikbud Sejarah dan Kebudayaan, 1984), Pada saat ini umumnya orang cenderung berpendapat, seperti yang disimpulkan dalam seminar-seminar, bahwa proses islamisasi telah dimulai di Aceh sejak abad pertama Hijriah atau akhir abad ke tujuh dan delapan Masehi, namun hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.

Pada awal penyiaran Islam itu kegiatan pendidikan dilakukan dengan sistem dakwah. Dan tampaknya hikayat Aceh yang sangat digemari oleh masyarakat di sana sebelum Islam datang merupakan media yang penting di samping media-media lainnya. Melalui hikayat ini dimasukkan unsur-unsur ajaran Islam didalamnya, baik gambaran tentang keutamaan agama Islam maupun unsur penting lain didalamnya.
Dalam kurun waktu yang singkat terbentuk pula keluarga-keluarga Islam terutama di gampông sekitar kota pelabuhan. Orang-orang tua yang telah menganut agama Islam itu tentu tidak mengabaikan pendidikan Islam kepada keluarganya. Mereka mulai mengajarkan dasar-dasar akidah (kepercayaan), ibadah dan muamalah Islam kepada anak-anaknya di rumah mereka masing-masing. Sejak waktu itu muncul pengajian-pengajian formal di rumah-rumah yang dianggap ‘alim oleh penduduk setempat, sehingga dapat disebutkan bahwa rumôh merupakan lembaga pendidikan formal Islam tingkat dasar yang pertama lahir di Aceh. Istilah Teungku Dirumôh mulai dikenal sejak waktu itu, meskipun kemudian pengertiannya dibatasi hanya kepada seorang wanita ‘alim, umumnya isteri Teungku Meunasah atau istri khatib Masjid, yang mengadakan pengajian-pengajian di rumahnya khusus bagi wanita.
Beriringan dengan lahirnya masyarakat gampong Islam itu didirikan pula lembaga gampong yang dikenal dengan nama; Meunasah atau mungkin saja lembaga serupa meunasah sudah dikenal oleh masyarakat Aceh jauh sebelumnya. Selain berfungsi sebagai balai musyawarah gampong dan tempat beribadah, juga berfungsi sebagai lembaga pendidikan.
Disamping itu, khusus tempat ibadah dan tempat belajar para wanita dewasa khususnya. Dibangun pula lembaga pendidikan yang dikenal dengan nama; Deyah, lembaga pendidikan yang juga memberi pelajaran tingkat dasar yang lebih dikenal di daerah pesisir barat dan selatan Aceh, sedangkan di daerah pesisir utara dan timur lebih dikenal dengan nama Dayah. Dengan demikian pada awal terbentuknya masyarakat Islam di Aceh telah dikenal tiga jenis lembaga pendidikan dasar, yaitu; Rumoh, Meunasah dan Dayah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar