Selasa, 28 November 2017

Menguak Sejarah Dayah di Aceh II

Di dalam sejarah perkembangan pendidikan di Indonesia, Aceh khususnya maka kita akan menarik kesimpulan, bahwa dayah sudah cukup banyak berjasa dalam mendidik putra-putri bangsa. Aceh akan termasuk salah satu dari daerah  diantara daerah-daerah yang maju di dunia ini, kalau saja Belanda tidak datang dan menjajah Aceh termasuk menghancurkan dan memporak-porandakan lembaga pendidikan dayah beserta kitab-kitab di perpustakaannya. Karena negara yang maju merupakan negara yang memiliki  lembaga pendidikan yang berkualitas dan mempunyai ilmuwan. Lembaga pendidikan yang khas di Aceh disebut Dayah merupakan sebuah lembaga yang pada awalnya memposisikan dirinya sebagai pusat pendidikan pengkaderan ulama. Kehadirannya sebagai sebuah institusi pendidikan Islam di Aceh bisa diperkirakan hampir bersamaan hadirnya Islam di Nusantara.

Dalam sejarah bahwa Sultan pertama di kerajaan Peureulak (840 M), meminta beberapa ulama dari Arabia, Gujarat dan Persia untuk mengajar di lembaga ini. Untuk itu sultan membangun satu dayah yang diberi nama “Dayah Cot Kala” yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Amin, belakangan dikenal dengan sebutan Teungku Chik Cot Kala. Lembaga ini merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam pertama di kepulauan Nusantara. (Hasbi: 2002)
Menurut M. Junus Djamil, yang dikutip dari Syekh Ishaq al-Makarani al-Pasi, bahwa pada tahun 800 M sejumlah muslim Arab telah berada di Aceh. Dan mendirikan perkampungan di sana. (Junus Djamil, 1962) Sedangkan menurut Hasbi Amiruddin yang dikutip dari Atlas of Islamic History karangan Harry W. Hazard, ditemukan data data bahwa muslim pertama yang mengunjungi Indonesia diperkirakan pada abad ketujuh, ketika pedagang Arab berhenti di Sumatera untuk menuju ke China.(Hasbi: 2002). Kedua hal inilah yang sangat memungkinkan lembaga pendidikan menjadi terkenal di Aceh. Karena para pedagang ini memperkenalkan Islam di sana, sebgaimana di daerah lain Islam dikenalkan lewat jalur perdagangan, serta sekaligus memperkenalkan lembaga pendidikan sebagaimana tradisi muslim memberikan ilmu mereka.
Berdirinya dayah tidak diketahui secara pasti, salah satu hal yang menyebabkan susahnya mengetahui kapan sebenarnya dayah masuk ke Aceh, disebabkan oleh masih sangat kurangnya penelitian dan perhatian yang mendalam terhadap dayah-dayah di Aceh, tetapi hanya dibahas perkembangan dayah pada masa abad ke 19 M hingga pertengahan abad ke 20 M.
Keberadaan Dayah pada masa penjajahan Belanda mengalami kemunduran, ini karena seluruh Ulama Dayah dan santrinya itu ikut berjuang melawan penjajah Belanda, sebagian besar para Ulama dan Teungku dayah syahid di medan perang, di antaranya Teungku Chik Haji Ismail anak Teungku Chik Pante Ya’kop (Pendiri Dayah Tgk Chik Pante Gelima), beliau syahid dalam peperangan melawan Belanda dalam mempertahankan Kuta Glee (Kecamatan Samalanga Kabupaten Bireuen).
Faktor lain yang menghambat perkembangan Dayah saat itu disebabkan karena Belanda melakukan upaya-upaya untuk menghambat pendidikan Agama Islam, serta Belanda menyebarkan pendidikan Barat di Aceh, sehingga menyebabkan Dayah terbengkalai. Selain itu, Belanda melakukan pembakaran terhadap Dayah-dayah dan membunuh seluruh staf pengajarnya serta membumihanguskan seluruh Perpustkaaan yang ada di Dayah, jika ada dayah yang masih bertahan itupun dibangun di daerah terisolir dan jauh dari pantauan Belanda. 
Dayah mulai bangkit setelah kemerdekaan Indonesia, perkembangan Dayah sudah menunjukkan hasil yang sangat baik, hal ini dapat dilihat dari perkembangan Dayah MUDI MESRA (Ma’had al ‘Ulum Diniyyah Islamiyyah Mesjid Raya)  Samalanga, Dayah BUDI (Bahrul Ulum ad-Diniyah al-Islamiyah) Lamno, Dayah Darussalam Labuhan Haji Aceh Selatan, dan Dayah dayah yang lain. Bahkan Sekolah pun mulai berkembang dengan pesatnya, sekolah bersifat Negeri dengan dukungan dan bantuan dari pemerintah sedangkah Dayah umumnya bersifat pribadi yang dikelola oleh Pimpinan Dayah dengan bantuan swadaya dari maysrakat sekitar.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar