Selasa, 28 November 2017

Dinamika Perkembangan Dayah

            Seperti penjelasan sebelumnya, dayah telah mewarnai kebudayaan aceh. Yang mana masyarakat umumnya sangat fanatik dengan sistem pemebalajaran di dayah. Dayah merupakan lembaga pendidikan yang mengajarkan ilmu agama  dengan mengkaji kitab-kitab klasik yang sebagian besar berbahasa Arab. Oleh karena itu pendidikan bahasa Arab di dayah menitik-beratkan pada pelajaran tata bahasa (Qawa’id) yang meliputi Nahu dan Sharaf.


a)      Dayah Tradisional
Hanya saja alumni dayah agaknya menempuh satu jalur aliran saja yaitu kitab kitab aliran mazhab Syafi’i, sementara di Perguruan Tinggi agaknya melebar ke kitab-kitab mahzab yang lain. Kekurangan lain barang kali karena kitab-kitab yang digunakan sebagai standar adalah kitab klasik saja, yang barang kali kalau tidak cukup cerdas menganalisanya banyak hal kasus-kasus fiqh yang sedang berkembang tidak terjawab dalam kitab-kitab tersebut. Tetapi hal yang merupakan kelebihan alumni Dayah adalah kitab-kitab yang mereka kaji tersebut sangat mereka kuasai karena mereka selalu mengulang-ulang kitab-ktab yang mereka kaji tersebut baik dalam waktu belajar maupun dalam mengajar murid-murid lainnya.
Dari segi penguasaan bahasa, alumni dayah salafi kurang menonjol, mereka  kurang menguasai bahasa, terutama asing. Ini  merupakan suatu perbedaan yang sangat besar dengan ulama-ulama dahulu yang menguasai beberapa bahasa asing dan aktif berkomunikasi. Ulama dayah sekarang sekalipun menguasai bahasa Arab secara mendalam namun tidak mampu menggunakannya untuk berkomunikasi apalagi untuk menulis dan mengajar dalam bahasa Arab. (Hasbi: 2003)
b)     Ciri-ciri Dayah Tradisional dan Eksistensinya
Ciri khas dayah salafi/tradisional yaitu kepemimpinan yang kolektif yang dilandasi oleh panca jiwa ruhul ma'had yaitu keikhlasan, kesederhanaan, berdikari, ukhuwah islamiyah dan kebebasan. Panca jiwa tersebut menjadi spirit segala aktivitas, perjuangan dan perngorbanan di dayah dilakukan oleh seluruh komponen personilnya. Ini terlihat dalam pengelolaan dayah mulai dari badan wakaf, pimpinan, majelis guru, dewan guru, seluruh pengurus dan seluruh santriwan/santriwati.
Eksistensi dayah menjadi istimewa karena ia menjadi pendidikan alternatif (penyeimbang) dari pendidikan yang dikembangkan oleh kaum kolonial (Barat) yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang. Dayah menjadi tempat berlabuh umat Islam yang tersingkir secara budaya (pendidikan) akibat perlakuan diskriminatif penjajah.
Kini perkembangan dayah dengan sistem pendidikannya mampu mensejajarkan diri dengan pendidikan lain pada umumnya. Kenyataan ini menjadi aset yang luar biasa baik bagi perkembangan pendidikan dayah maupun pendidikan Aceh bahkan nasional pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Dari sana diharapkan tumbuh kaum intelektual yang berwawasan luas dengan landasan spiritual yang kuat.
Eksistensi dayah tidak bisa dilepaskan dari peran negara. Ranah kultural yang digeluti dayah selama ini menjadi landasan yang sangat berarti bagi eksistensi negara khususnya daerah Aceh. Perjuangan dayah baik secara fisik maupun secara kultural tidak bisa dihapus dari catatan sejarah Aceh. Dan kini generasi santri tersebut mulai memasuki jabatan-jabatan publik (pemerintah), baik eksekutif maupun legislatif yang dulunya hanya sebatas mimpi.
c)      Dayah Modern
Di Aceh juga berkembang dayah Khalafi (modern/ terpadu) yang juga lebih dikenal dengan pesantren modern/ terpadu yang menawarkan pendidikan setingkat SMP dan SMA. Sistem pendidikan dayah modern ini sama dengan sistem pendidikan di pesantren. Materi/ kurikulumnya mengacu kepada kurikulum pesantren yang berlaku di Indonesia dipadukan dengan kurikulum madrasah, tenaga pengajar terdiri dari teungku dayah salafi, dan alumni sekolah/ universitas agama maupun umum baik dari dalam maupun luar negeri, murid (santri) disediakan asrama sebagai tempat tinggal, murid belajar dala ruangan secara klasikal, biaya penyelenggaraan pendidikan disamping dari infaq/waqaf juga diambil dari uang sumbangan pembayaran pendidikan (SPP) serta bantuan pemerintah Aceh.
d)     Ciri-ciri Dayah Modern dan Eksistensinya
Ciri khas dayah modern, tidak berbeda jauh dengan dayah tradisional/salafi, perbedaan yang terlihat hanya pada kurikulum atau materi yang mengacu pada kurikulum di pesantern pada umumnya yang dipadukan dengan kurikulum dayah.
Eksistensi dayah modern tiap tahunnya mengalami kestabilan bahkan penigkatan, dengan persaingan santrinya dengan sekolah-sekolah umum yang tidak memakai sistemm pondok, dayah modern menjadi istimewa karena ia menjadi pendidikan alternatif (penyeimbang) dari pendidikan yang dikembangkan oleh kaum kolonial (Barat) yang hanya bisa dinikmati oleh segelintir orang.
Kini ke-modern-an dayah dengan sistem pendidikannya mampu mensejajarkan diri dengan pendidikan lain pada umumnya. Kenyataan ini menjadi aset yang luar biasa baik bagi perkembangan pendidikan dayah maupun pendidikan Aceh bahkan nasional pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Dari sana diharapkan tumbuh kaum intelektual yang berwawasan luas dengan landasan spiritual yang kuat. (Tribun Aceh: 2015)
Eksistensi dayah modern tidak bisa dilepaskan dari peran negara. Ranah kultural yang digeluti dayah selama ini menjadi landasan yang sangat berarti bagi eksistensi negara khususnya daerah Aceh. Perjuangan dayah baik secara fisik maupun secara kultural tidak bisa dihapus dari catatan sejarah Aceh. Dan kini generasi santri tersebut mulai memasuki jabatan-jabatan publik (pemerintah), baik eksekutif maupun legislatif yang dulunya hanya sebatas mimpi.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar