Selasa, 28 November 2017

Urgensi Dayah sebagai Lembaga Pendidikan Islam

Keberadaan lembaga dayah dan meunasah bagi pengembangan pendidikan di Aceh sangatlah urgen, dan kebermaknaan kehadirannya sangat dibutuhkan dalam membentuk umat yang berpengetahuan, jujur, cerdas, rajin dan tekun beribadah yang kesemuanya itu sarat dengan nilai. Sejarah membuktikan bahwa Sultan pertama di kerajaan Peureulak (840 M.), meminta beberapa ulama dari Arabia, Gujarat dan Persia untuk mengajar di lembaga ini. Untuk itu sultan membangun satu dayah yang diberi nama “Dayah Cot Kala” yang dipimpin oleh Teungku Muhammad Amin, belakangan dikenal dengan sebutan Teungku Chik Cot Kala. Lembaga ini merupakan lembaga pendidikan tinggi Islam pertama di kepulauan Nusantara.(Hasbi: 2003)

  Pada masa kesultanan Aceh, dayah menawarkan tiga tingkatan pengajaran, yakni rangkang (junior), balee (senior), dan dayah manyang (universitas). Di beberapa dayah hanya terdapat rangkang dan balee, sedangkan di tempat lain hanya ditemui tingkat dayah manyang saja. Meskipun demikian di tempat tertentu juga terdapat tiga tingkatan sekaligus, mulai junior - universitas. Sebelum murid belajar di dayah, mereka harus sudah mampu membaca Alquran  yang mereka pelajari di rumah atau di meunasah bersama teungku. Metode mengajar di dayah pada dasarnya dengan halaqah, mëudrah (datang dan membawa kitab kepada teungku), dan metode hafalan. Pada kelas yang lebih tinggi, metode diskusi dan debat (meudeubat) sangat dianjurkan dalam segala aktifitas proses belajar mengajar (Rusdi Sufi: 1987) Para teungku hanya berperan sebagai penengah atau pengambil keputusan.
anëuk dayah (santri) biasanya terdiri dari dua kelompok, yaitu santri kalong dan santri mukim/meuranto. Santri kalong merupakan bagian aneuk dayah yang tidak menetap dalam pondok, tetap pulang ke rumah masing-masing setelah belajar. Mereka biasanya berasal dari daerah sekitar dayah tersebut. Sementara santri meuranto adalah santri yang tinggal menetap dalam dayah dan biasanya berasal dari daerah yang jauh. (Dhofier: 1985)
Menuntut ilmu di dayah, biasanya membutuhkan waktu yang tak terbatas. Beberapa anëuk dayah (santri) belajar di beberapa dayah, berpindah dari satu dayah ke dayah lainnya, setelah belajar beberapa tahun, seorang murid menyelesaikannya tergantung pada ketekunannya atau pengakuan guru bahwa murid itu telah selesai dalam studinya dan layak untuk terjun ke dunia masyarakat. Kadang-kadang murid tersebut ingin melanjutkan studinya di dayah sampai ia sanggup mendirikan dayahnya sendiri. Dalam hal ini, tidak ada penghargaan secara diploma. Karena itu, setelah belajar dan mendapat pengakuan dari teungku chik (abu pimpinan dayah) mereka terjun ke dunia masyarakat dan bekerja sebagai teungku di meunasah-meunasah, menjadi da’i atau imam-imam di masjid dan tentunya menjadi panutan di kalangan masyarakat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar