Jumat, 15 Desember 2017

Nilai Ujian Bukan Segalanya


gurumenulis.com
Kurang lebih 14 hari sudah berlalu, ujian tengah semester (UTS) setiap daerah di Indonesia sedang atau bahkan sudah menyelesaikannya. Tentunya Indonesia menerapkan sistem bahwa nilai akademik yang diwakilkan oleh rapor menjadi patokan kumpulan nilai, nilai ini juga yang menjadi alat ukur kemahiran, kekreatifan, dan praktik kebudayaan dalam proses belajar mengajar di sekolah. Sebenarnya tidak ada yang salah dalam hal ini Nilai menjadi patokan kelulusan dalam menempuh pendidikan, baik kelulusan naik kelas maupun untuk kelulusan untuk melanjutkan pendidikan di tingkat selanjutnya. Namun banggakah kita dengan ‘Nilai Akademik’ yang kita peroleh, tentu bangga jika kemahiran kita berasal dari tempahan kejujuran serta kesempurnaan nilai kognitif, psikomotirik dan afektif.

Berbangga atas prestasi yang diraih itu hal yang lumrah. Dan tidak ada yang salah mengenai nilai akademik atau nilai akhir yang sudah dikalkulasikan menjadi ranking di sekolah, namun satu pertanyaan yang menarik, “apa sih yang benar-benar kita cari dari bangku pendidikan itu? Apa cuman ingin sekedar lulus dengan nilai terbaik? Apa hanya mengharapkan hadiah dari keluarga sekiranya mendapatkan nilai tertinggi?”, tentu saja tidak.

Melihat inovasi pendidikan yang diterapkan oleh Finlandia, salah satunya sistem penilaian mereka tidak bergantung pada sehelai kertas yang dikumpulkan menjadi rapor. Hanya sekali penilaian tes standar yang dilakukan saat umur 16 tahun. Bukan berarti Indonesia harus menerapakan sistem yang sama dengan negara lain. Namun, standar penilaian siswa juga tidak bisa dilihat dari satu aspek saja, yang merupakan jebakan bagi guru. Dikatakan jebakan karena setiap nilai yang dituliskan juga terkdang tidak objektif, bahkan tidak sesuai dengan nilai. Perilaku, dan sikapnya saaat berosialisasi.

Karena tujuan pendidikan juga bukan hanya kognitif semata, maka tinjauan afektif harus pula dijadikan bahan acuan dalam menjalankan proses pendidikan. Pendidikan harus berangkat dan memupuk keterampilan sosial (sosial skills) dan keterampilan hidup (life skills) serta diiringi dengan penerapan pendidikan akhlak kepada anak, karena hal ini telah dirumuskan oleh tokoh pendidikan Islam seperti Ibnu Miskawaih, al Ghazali, dan al Zarnuji menunjukkan bahwa tujuan puncak pendidikan akhlak adalah terbentuknya karakter positif dalam perilaku anak didik.

Dengan penentuan nilai akhir secara individu tentu sangat diharapkan setiap siswa juga harus didoktrin dengan yang sosialisme tinggi bukan sifat individuali atau anti-sosial bukan berarti berpenampilan jadul, culun dan sebagainya, tapi anti-sosial disini adalah siswa menjadi seorang yang individualis atau lebih senang sendirian dan malas untuk berinteraksi apalagi bergaul dengan orang lain. Pola hidup seperti ini perlu dihindari, bagaimanapun kita adalah mahluk sosial dan sepandai pandainya kita, kita akan tetap membutuhkan orang lain. Kebanyakan penilaian yang diterapkan di sekolah-sekolah adalah penilaian per-individu, bukan per-kelompok, jadi pencapaian pribadi menjadi hal utama dan inilah yang membuat kita menjadi seorang yang individualis. Coba kita lihat para realitanya, apabila ada sebuah perusahan akan maju dan sukses, pasti didalamnya ada kerjasama yang baik dari semua orang yang terlibat didalamnya. Jadi hal yang bisa kita ambil lagi dari proses pendidikan ini adalah kebersamaan, dan kerjasama dalam kebaikan.

Untuk itu, pesan bagi orang tua tidak selamaya anak yang nilainya belum mencapai standar nilai yang ditentukan, bukan berarti tidak bisa bersaing dengan orang lain, bukan berarti tidak ahli dalam bidang tertentu. karena satu aspek materi pelajaran tidak bisa diukur dengan menyamakan materi pelajaran yang lain. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar