Rabu, 28 Maret 2018

Kesejahteraan Guru dan Mutu Pendidikan Indonesia


Berbicara soal mutu pendidikan seolah tak ada tolok ukur yang dapat menjawabnya. Seluruh jenjang pendidikan di Indonesia (saat ini) pasti sedang memikirkan bagaimana caranya sekolah atau madrasahnya memiliki kualitas yang tinggi. Hubungan antara mutu sekolah dengan mutu guru harusnya dirancang secara kritis dengan tidak mengabaikan indikator dari guru yang sejahtera tersebut. Ada beberapa fakta mengatakan bahwa guru yang sejahtera itu memiliki mobil, rumah, berpakaian necis, dan lainnya. Sedangkan tak sedikit guru yang sedang menutupi cicilan rumah dan kendaraanya, belum lagi menyisihkan sebagian honornya untuk keperluan rumah tangga menyekolahkan anak-anaknya. Jadi, tidak heran kalau banyak guru mencari profesi lain untuk tambahan menutupi keperluannya setiap hari.

Padahal semua orang tau, bahwa pendidikan merupakan salah satu faktor penting kewibawaan sebuah negara didapatkan. Dengan pendidikan yang baik pastinya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten dalam bidangnya. Sehingga kondisi bangsa akan terus mengalami perbaikan dengan adanya para penerus generasi bangsa yang mumpuni dalam berbagai ilmu.

Mengutip dari CNN Indonesia, kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala. Faktanya, indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999).

Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia.
Memasuki abad ke- 21 dunia pendidikan di Indonesia heboh. Kehebohan tersebut bukan disebabkan oleh kehebatan mutu pendidikan nasional tetapi lebih banyak disebabkan karena kesadaran akan bahaya keterbelakangan pendidikan di Indonesia.

Kemajuan teknologi dan perubahan yang terjadi memberikan kesadaran baru bahwa Indonesia tidak lagi berdiri sendiri. Indonesia berada di tengah-tengah dunia yang baru, dunia terbuka sehingga orang bebas membandingkan kehidupan dengan negara lain. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain.

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia antara lain adalah masalah efektivitas, efisiensi dan standarisasi pengajaran. Hal tersebut masih menjadi masalah pendidikan di Indonesia pada umumnya. Selain kurang kreatifnya para pendidik dalam membimbing siswa, kurikulum yang sentralistik membuat potret pendidikan semakin buram.

Kurikulum hanya didasarkan pada pengetahuan pemerintah tanpa memperhatikan kebutuhan masyarakat. Pendidikan tidak mampu menghasilkan lulusan yang kreatif. Kurikulum dibuat di Jakarta dan tidak memperhatikan kondisi di masyarakat bawah atau di daerah sampai daerah terpencil sana.
Sehingga para lulusan hanya pintar cari kerja dan tidak bisa menciptakan lapangan kerja sendiri. Padahal lapangan pekerjaan terbatas. Masalah mendasar pendidikan di Indonesia adalah ketidakseimbangan antara belajar yang berpikir (kognitif) dan perilaku belajar yang merasa (afektif). Belajar bukan hanya berpikir tapi melakukan berbagai macam kegiatan seperti mengamati, membandingkan, meragukan, menyukai, semangat dan sebagainya.

Beralih ke kesejahteraan guru, antara salut dan bangga ketika ada guru yang masih mengajar dimana-mana, menambah profesi lain, mengadaikan SK nya, memikirkan cicilan dan lain sebagainya, namun masih punya semangat untuk menjadi siswa/i belajar dengan serius. Memaksimalkan segala kemampuannya dalam memanfaatkan fasilitas di sekolah, mencari rujukan dan mempraktikkannya di dalam kelas, memanfaatkan fasilitas yang apa adanya sebagai media pembelajaran, merasa nyaman ketika mengajar di kelas/sekolah manapun. Sebutan “guru kreatif” rasanya cocok untuk disematkan kepada guru tersebut. Ketika urusan sekolah menjadi prioritas dalam dirinya disamping keluarganya.

Melihat ketidakjelasan indikator dari guru yang sejahtera banyak media bahkan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sekalipun mengatakan “1 Juta guru Indonesi belum sejahtera” hal ini seakan riskan dengan tujuan pendidikan nasional dengan meningkatkan mutu pendidikan namun tidak menjadi prioritas saat membahas soal  kesejahteraan guru.

Pendidikan Indonesia ini masih jauh dari kata layak. Di segala segi faktor yang dibahas masih banyak masalah yang harus ditangani. Kualitas pendidikan masih sulit sekali ditingkatkan. Tidak bisa semata-mata menyalahkan pemerintah saja, selain kritis dalam memperjuangkan hak-haknya juga tetap berpedoman pada jalan guru yang cerdas, kreatif, dan inovatif. Oleh karena itu kita perlu membangun kembali pondasi pola berpikir kita meningkatkan kesadaran akan pentingnya pendidikan, masyarakat sekitar pun harus turut mendukung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar