Minggu, 04 Maret 2018

Menyoal Perangkat Digital Sebagai Sumber Belajar


gurumenulis.com
Sering kali menemukan pelajar tingkat dasar maupun menengah yang sudah mahir dalam mengoperasikan perangkat digitalnya, singkatnya ponsel cerdas atau gadget.

Berdasarkan riset di luar negeri kasus pemanfaatan media komputer sebagai media pembelajaran dapat membantu para peseta didik untuk memahami setiap materi dengan cepat dan tepat. Namun, hal itu hanya sebatas “meyakinkan” saja. Anak-anak di korea seolah malu mengakui bahwa mereka tertarik dengan hal tersebut. (Yee-Jin Shin: 2014)

Karena mereka sendiri sudah sangat terbiasa dengan penggunaan perangkat digital tersebut. Seharusnya perangkat digital ini bukan hanya alat atau media semata, namun lebih kepada alat yang dapat menyelesaikan problematika dalam memahami setiap materi pelajaran.


Lingkup pendidikan pra-sekolah pun tidak terlepas dari penggunaan perangkat digital. Jika diamati sekilas, pendidika prasekolah baru-baru ini, kitaakan sulit menemukan barang-barang lain selain ponsel genggam. Ada juga boneka yang bisa mendongengkan cerita anak ternama. Ada pula buku cerita anak yang biasanya menggunkan kertas kini tersimpan dalam perangkat digital yang harganya juga lumayan. Seolah alat tersebut menggantikan ibu yang sibuk dan repot bekerja dan mengurus rumah tangga.

Produk-produk sejenis terus silih berganti muncul ke permukaan masyarakat. Hal tersebut menjadi bukti terus meningkatnya permintaan terhadap ketersediaan mesin-mesin tersebut. Mau tidak mau para ibu menyuguhkan anaknya dengan perangkat digital sejak balita.

Selain itu, perangat digital juga tidak membuat anak tertarik untuk belajar dan berusaha keras untuk menemukan sesuatu yang baru. Seolah anak kehilangan jati diri ketika anda memberikan perangkat digital tersebut, otak anak justru terpengaruh oleh stimulasi kuat dari perangkat digital.

Menilik ke belakang, saat duduk di bangku sekolah (dulu), kita perlu membaca buku lalu menggaris bawahi hal-hal yang dianggap penting saat membacanya. Metode belajar seperti ini, tidak akan didapat melalui perangkat digital. Untuk itu, Orang tua tidak boleh bersikap acuh tak acuh dalam hal ini. Keinstanan mencari pengetahuan akan menjadi jalan pintas baginya untuk menjadi “matang semu” ketimbang membuatnya menjadi cerdas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar