Rabu, 18 April 2018

Guru Cerdas dan Peran Aktif di Era Disrupsi


Era disrupsi dalam arti sederhana merupakan gangguan atau mengganggu (disruption). Untuk menyambut era disrupsi pakar manajemen dari Universitas Indonesia Rhenald Kasali meluncurkan buku hasil kajiannya yang berjudul "Disruption: Menghadapi Lawan-Lawan Tak Kelihatan dalam Peradaban Uber".

Menurutnya, Era Disrupsi adalah fenomena ketika masyarakat menggeser aktivitas-aktivitas yang awalnya dilakukan di dunia nyata, ke dunia maya. Fenomena ini berimbas pada perubahan pola dunia bisnis. Kemunculan transportasi daring adalah salah satu dampaknya yang paling populer di Indonesia selama ini.

Tak terlepas dari hal itu, dalam dunia pendidikan juga termasuk di dalamnya. Salah satunya adalah guru, yang dalam hal ini menjadi “pemeran” dalam menjajaki era disrupsi yang mempunyai pengaruh signifikan dengan dunia pendidikan. Misalnya, dengan memanfaatkan media teknologi sebagai perantara penyampaian materi pembelajaran.

Disrupsi mendorong terjadinya digitalisasi sistem pendidikan.  Munculnya inovasi aplikasi teknologi seperti uber atau gojek telah  menginspirasi lahirnya banyak aplikasi sejenis di bidang pendidikan. Google yang sebelumnya telah banyak mengambil "peran" guru pada layar lebar LCD, sekarang lebih mudah lagi ketika google tertanam dalam batangan android berupa aplikasi.  Mudah, sangat keren, inovatif dan canggih, lalu apalagi peran guru dalam ruang-ruang kelas konvensional yang dipenuhi tumpukan buku tugas dan terkesan membosankan?

Berkutat pada Tripusat Pendidikan karya lama Ki Hajar Dewantara.  Tripusat Pendidikan dalam perspektif Ki Hajar Dewantara adalah  tiga dimensi penting yakni rumah, sekolah dan masyarakat. Konsep Tripusat Pendidikan memang masih efektif tetapi ada dimensi lain yang terabaikan yakni dimensi  maya dan teman sebaya. Jadi Tripusat Pendidikan sebaiknya bertransformasi menjadi Panca Pusat Pendidikan. 

Diakhir tulisan ini ada baiknya merenungkan kembali fungsi guru secara klasikal; "Materi Pembelajaran adalah sesuatu yang penting, tetapi metode pembelajaran jauh lebih penting daripada materi pembelajaran. Metode pembelajaran adalah sesuatu yang penting, tetapi guru jauh lebih penting daripada metode pembelajaran. Guru adalah sesuatu yang penting, tetapi jiwa guru jauh lebih penting dari seorang guru itu sendiri".

Perkembangan teknologi seakan menjerumuskan para pelajar untuk bersikap pragmatis. Mereka dengan mudahnya mengkonsumsi referensi yang bersifat instan tanpa filterisasi didalamnya. Hal ini menyebabkan pelajar tidak mempunyai sikap kritis terhadap sesuatu, semua serba “terima apa adanya”. Ini merupakan tugas utama guru dalam memperbaiki literasi baca di kalangan pelajar. Karena sifat kritis mereka bisa dilatih sejak di bangku sekolah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar