Minggu, 21 Oktober 2018

Santri Milenial: Karakter atau Fasilitas?


Dulu ketika orang tu mengantarkan putra-putrinya ke Pondok Pesantren, pertanyaan yang sering muncul adalah “peantren ini mengajarkan kitab apa?”, “ustadznya alumni pesantren mana?”, “Sanad keilmuannya bagaimana?”, “peran alumni di masyarakat bagaimana?”. Begitu seterusnya, pertanyaan-pertanyaan logika yang dulu sangat wajar dan sering ditanyakan para orang tua.
Namun, hal itu sangat jarang didengar, pertanyaan yang sering muncul saat ini adalah tempat tidurnya lesehan atau di Kasur? Kamarnya full AC atau tidak? Boleh pulang gak seminggu sekali? Disini ada laundry-nya kan?.

Muncul banyak penafsiran ketika ketemu dengan orang tua yang menyodorkan pertanyaan seperti itu. Pergesera paham tentang makna santri  juga bergeser di kalangan para calon wali santri. Pergeseran makna dan tujuan orang tua mengirim putra-putrinya ke pesantren, sebagian juga tetap ada yang mengirimkan putra-putrinya adalah menuntut ilmu tanpa mempersoalkan bagaimana fasilitas didalamnya. Sebagai alumni dari salah satu Dayah (Pesantren) di Aceh juga merasakan hal yang sama. Sama dalam hal memamahami dalam hal selain menuntut ilmu dalam hal keberkahan juga harus tetap menjaga ibadahnya baik ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah.

Orang tua zaman now lebih mementingkan kenyamanan dan pelayanan, bagaimana tidak sewaktu anaknya di rumah, semua serba dilayanin dan disuguhkan. “kalua melanggar aturang, mohon diberikan sangsi yang sewajarnya ya ustadz” percakapan seperti ini mulai jarang bahkan hampir tidak ada lagi. Namun demikian, pemikiran ‘orang tua zaman old’ dan ‘orang tua zaman now’ harus dikolaborasikan, diaman pola beajar yang aktif dan fasilitas asrama juga perlu diperhatikan.

Sedikit mengulas tentang ‘santri milenial’, akhir-akhir ini sedang “menguliti” beberapa buku yang menyoal tentanghal tersebut. Mengutip pendapat salah satu dosen UMM Malang  tentang kepakaran di era media social; dengan adanya internet banyak orang-orang tidak tertarik dengan hal-hal yang bersifat proses. Instan atau serba cepat, hal ini merupakan yang paling diminati oleh masyarakat.

Generasi milenial banyak belajar agama melalui internet. Secara otodidak mereka berguru pada Google, Youtube, dll. Mereka lupa belajar agama seperti santri (dulu) secara langsung bertatap muka (muwajjahah) serta mempunyai sanad keilmua yang tersambung (muttasil).

Di pesantren kita belajar tentang bagaimana tata cara menghargai seorang orang yang lebih tua, guru, ustadz dan ustadzah, hingga keluarganya. Karena di pesantren selain mengenal istilah “ilmua yang bermanfaat” kita juga harus mengenla “ilmu yang berkah”. Keberkahan ilmu tidak bisa didapatkan selain memberi penghormatan kepada yang ahli kelimuan.

Transfer of knowledge melalui pengajaran diskusi, rihlah, musyawarah, sorogan, dan lainnya. Selain itu juga memberi ppengajaran tentang bagaimana menghargai ilmu  lahir dan batin, para ustadz dan ustadzah atau kyai juga mendoakan para santrinya kelak menjadi orang-orang hebat yang bermanfaat di dunia dan akhirat. Inilah karakteristik santri yang “mahal”.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar