Pendidikan

Isu-isu Kritis yang Mempengaruhi Sistem Pendidikan

Pendidik Sebagai Leading Sector

Sebagaimana tujuan pendidikan nasional maka sektor pendidikan mendapat prioritas utama senantiasa di adakan program pembinaan Daya Manusia (SDM) yang mempunyai Strategis karena merupakan prasyarat mutlak bagi Wajo untuk kompetisi di masa sekarang dan akan datang.

Beberapa upaya yang di lakukan yaitu membina kelas unggulan dari tingkat SD sampai SMA, mengikutkan aparatur Pemerintahan dalam Program pendidikan formal S1 dan pasca sarjana, dan memberikan bantuan peningkatan sarana dan prasarana pendidikan termasuk lembaga pendidikan agama.


Sistem pendidikan ini memiliki beberapa aspek yang harus diberikan dan dimiliki oleh para peserta didik. Aspek-aspek itu tidak berbeda dengan tujuan sistem pendidikan nasional yakni peserta didik memiliki keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan yang Maha Esa, sehat, cakap, berilmu, kreatif, mandiri, demokrasi dan bertanggungjawab. Hanya saja aspek ini kemudian dikembangkan dengan sarana yang berbeda dan tak butuh penilaian, melainkan sedikit pengawasan.

Minimal ada dua stakeholder yang harus optimal dilaksanakan fungsinya dalam sistem ini.  stakeholder Pertama adalah pengajar, guru namanya. Guru pada umumnya dalam sistem ini akan memiliki tugas seperti biasa yakni dalam konteks keilmuan saja. Guru hanya dibebankan untuk menciptakan sosok yang berilmu. Berilmu yang sesuai dengan sistem yang ada. Sesekali mungkin dapat memberikan arahan pada aspek lain, tapi itu bukan prioritas utamanya.

Stakeholder kedua, peserta didik namanya. Stakeholder inilah yang kemudian diberdayakan untuk mencapai aspek-aspek yang memang dibutuhkannya sendiri. Peserta didik ini kemudian harus mengupayakan agar dirinya, masing-masing peserta didik, itu mampu meningkatkan sendiri keimanan dan ketakwaannya kepada Tuhan yang Maha Esa, cakap bicaranya, sehat tubuh dan jiwanya, mandiri kehidupannya, kreatif pemikirannya, demokratis dan bertanggung jawab sifatnya. Upaya ini kemudian menuntut mereka membentuk sebuah komunitas baik intra maupun ekstra sekolah. Tuntutan komunitas itu didasarkan atas ketidakmungkinan berlangsung optimal dan merata dalam peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dalam kesendirian.

Kesempurnaan pembentukan komunitas ini, terutama komunitas intra sekolah, harus diformalkan oleh sekolah atau bahkan pemerintah, dan diarahkan sedemikian rupa akar bibit-bibit kreatif peserta didik mulai bermunculan kedepannya. Organisasi Intra Sekolah (OSIS) yang relatif ada dalam setiap SLTP dan SLTA sepertinya tak cukup kuat untuk mengoptimalkan diri dalam mancapai terciptanya sosok yang memiliki kompetensi yang sesuai dengan sistem pendidikan nasional yang ada. Hadirnya komunitas Rohis di beberapa sekolah bagi peserta didik yang beragama islam, kemudian juga mampu memberikan akselerasi pencapaian aspek keimanan dan ketakwaan yang ada. Begitu juga dengan hadirnya ekstrakurikuler bidang olahraga di beberapa sekolah juga kerap kali menjadi akselerasi pencapaian aspek kesehatan yang ada.

Sistem pendidikan nasional yang lebih banyak bertumpu pada aktivitas peserta didik inilah yang saya sebut dengan sistem pendidikan nasional berbasis pemberdayaan peserta didik. Sistem ini diharapkan mampu menghadirkan soul (jiwa/ruh) sekolah di antara perangkat-perangkat sekolah, yakni peserta didik, pengajar, karyawan, dan perangkat tambahan lainnya. Sistem ini kemudian mampu secara jelas memberikan gambaran sosok peserta didik ideal yang diinginkan. Sistem ini kemudian akan berjalan lebih transparan, dimana masing-masing stakeholder akan mengetahui posisinya sebagai apa dan capaian apa yang harus diraih dalam konteks sistem pendidikan nasional, sehingga feedback peserta didik pun akan secara berkelanjutan
berlangsung dan memungkinkan perbaikan sistem yang secara tidak sadar akan terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar